Politisi PDIP: "Pidato Jokowi Soal Agama dan Politik Jangan Dicampur, Itu Lumrah Saja dan Tak Ada yang Salah"


Politisi PDIP Eva Kusuma Sundari mengatakan, pidato Jokowi yang menyingung soal agama jangan dicampuradukkan dengan politik adalah pidato yang lumrah saja dan tak ada yang salah.

"Indonesia itu berdasar ketuhanan bukan agama, artinya nilai-nilai universal agama (substansi) yang dipakai dasar negara bukan agama formal tertentu. Wong agamanya banyak, yang mana? Pancasila itu sudah mewadahi nilai-nilai agama- agama," ujar anggota Komisi XI DPR RI itu di Jakarta, Sabtu (01/04/2017).

"Dan perlu diingat kita negara kebangsaan, tidak mengenal mayoritas dan minoritas. mayoritas maupun minoritas tidak boleh jadi tirani," sambung dia.

Menurutnya, pemaknaan hubungan agama dan negara sebenarnya sudah dijelaskan di pidato 1 juni oleh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno.

Dijelaskannya, Soekarno menyebutkan bahwa dalam beragama harus berbudaya yaitu ada kemanusiaan (kesetaraan), tidak egois dengan tidak menyesatkan atau menganggap remeh agama yang lain.

"Jadi politik tidak terpisah dari agama, tapi nilai-nilai universal agama dalam berpolitik misalnya makar tapi menghormati hukum dan konsensus bersama, tidak memecah belah karena ada egois kelompok," tandas dia.

Sudah sangat jelas, kata dia, dasar berpolitik Indonesia adalah konstitusi (sistem hukum) bukan berdasar agama (tertentu).

"Jadi Jokowi benar, mengingatkan kita untuk tidak politisasi agama dalam pertarugan mencari kemenangan. Sebab, resikonya kekerasan dan memecah belah karena identitas politik kita adalah negara kebangsaan bukan basis sekretarian seperti tahun 1928," pungkas dia.
(pmo)