Siap Ladeni Jokowi Soal Wacana Pemisahan Agama dan Politik, Fahri Hamzah: Jangan Lempar Batu Sembunyi Tangan


Presiden RI Joko Widodo melontarkan pernyataan kontroversial "Politik dan Agama Harus Dipisah Betul".

Pernyataan ini disampaikan Presiden Jokowi di Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017).

Beragam tanggapan muncul. Termasuk dari Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah.

Politisi asal NTB ini siap meladeni wacana pemisahan Agama-Politik.

Berikut pernyataan Fahri Hamzah di akun twitternya:

1. Saya selalu mengapresiasi mereka yang berani bicara terbuka tentang pemisahan agama dan politik. #AgamaDanNegara

2. Tapi cobalah terus berargumen. Jangan sehabis bicara diam. Sebab ini adalah perdebatan.

3. Ungkapkan seluruh argumen; historis, politis, teoritis atau apapun...katakan dengan gamblang.

4. Sebab setelah itu, kita akan mendengar apa yang dimaksud. Lalu melihat sang narator berdiri


kokoh menanti perdebatan.

5. Selama ini saya agak malas. Karena semuanya seperti melempar batu sembunyi tangan.

6. Batu sudah kena kepala orang tetapi sang pelempar diam dan tidak memberi pertanggungjawaban.

7. Terakhir saya bela2in masuk tipi gara2 pernyataan soal #demokrasikebablasan.

Jokowi: Demokrasi Kita Sudah Kebablasan
https://news.detik.com/berita/d-3428904/jokowi-demokrasi-kita-sudah-kebablasan

8. Udah nunggu gak ada satupun yang masuk gelanggang. Semua diam. Mungkin menyadari kesalahan.

9. Itu yang saya lebih heran. Karena banyak orang pintar katanya mendukung gagasan itu tapi mereka tidak berani kelihatan (untuk berdebat -red).

10. Kenapa malu secara terbuka mendukung pernyataan orang yang memang didukung?

11. Gak usah khawatir dianggap bodoh karena yang penting adalah memperkuat argumen.

12. Nah soal agama dan politik atau agama dan negara nantinya. Apa dasar argumennya?

13. Sebab ini Indonesia yang sejak awal berdasarkan pancasila yang merupakan sari pati tujuan agama dan negara.

14. Sampai sini aja dulu ya....

(Nunggu yang mau gentle berani berdiri mempertahankan wacananya. Seperti dulu para tokoh-tokoh bangsa tak segan berdebat, Soekarno VS Natsir)
(pii)