Pegi si Guru Ngaji Kini....Sebuah Keadilan yang teraniaya


Sakitnya melihat 2 foto inih.....
Satu orang yang sama, dalam dua keadaan berbeda.

Foto Sebelah kiri saat Rubi Pegi belum masuk tahanan polres Jakbar.
Si anak remaja masjid, guru ngaji anak-anak kecil di sore hari.
Jangankan mabuk ataupun memakai narkoba, bahkan merokok pun tidak.
Dia yang menafkahi keluarganya, satu-satunya laki-laki dirumah itu yang bertanggung jawab akan ibunya, adik perempuannya, istrinya, dan satu orang anaknya, balita perempuan berusia 2 tahun.

Foto Sebelah kanan, Rubi Pegi juga..
Tapi setelah menjadi tahanan polres Jakbar.
Kepalanya sudah langsung digunduli di hari pertama masuk sel tahanan, ditempatkan dalam satu sel dengan kasus narkoba, penjabret, dan pelaku kriminal lainnya.
Dia tidur dilantai sel penjara tanpa alas sama sekali.
Bahkan untuk shalat pun dia terpaksa menggunakan celana pendek, Karena keluarga dilarang memberikan celana panjang ataupun sarung, juga sajadah.
Namun demikian, Rubi Pegi tetap shalat, bahkan saat saya tadi di polres Jakbar, berkumandang azan Dzhuhur, ternyata yang azan adalah Rubi Pegi.... Subhanallah....

Pegi, yang ditahan karena tuduhan perkelahian dan pengeroyokan atas seorang pemabuk pembuat onar di kampung itu, karena si pemabuk yang ternyata adalah tim sukses nya Anjrot, telah memaki seorang ibu yang juga dulunya guru ngaji Pegi, namanya Bu Zaenab.
Bu Zaenab dikatain bangsat, karena Bu Zaenab menegur Iwan yang saat itu sedang mabok berat teriak2 dimalam hari "hidup ahog" ber-kali2.

Padahal yang memukuli Iwan Batak pertama kali bukan Pegi, melainkan warga yang jumlahnya banyak....

Yaah, semoga penangguhan penahanannya bisa segera dikabulkan.... Aamiin....

(by Maharani Hasan)

***
Di kolom komentar tulisan Maharani Hasan di akun fb-nya ini, ada komentar dari Emat tetangga nya Pegi.

Berikut cerita Emat:

"Dia tetangga ane...
Kadang ane juga sedih klw lihat kejadian seperti ini, iwan batak si pembuat ulah malah bebas, negri terbalik...
Sebenarnya kasus sdh di selesaikan secara kekeluargaan sama RT dan RW, cuman pihak hokers memanfaatkan kodisi seperti ini di jadikan ajang politik, seolah-olah mereka di aniaya...," kata Emat.

"Dan satu hal hukum dan pihak berwajib selalu tumpul ke hokers dan tajam ke umat islam....," tegas Emat.

Berikut fb-nya:

(dmn)