Jika GIDI yang Membakar Masjid Saja Diundang, Akankah Hari Ini Engkau Izinkan Kami Masuk Istana?


Saya masih ingat episode ini. Sekitar sebulan usai aksi pembakaran masjid di Tolikara, Papua saat Idul Fitri pada 2015 lalu, engkau undang Gereja Injil Di Indonesia (GIDI) ke Istana. Kami terhenyak.

Engkau menerima mereka dengan ramah. Menggelar karpet merah. Menyediakan jamuan makan dengan menu menggugah selera. Plus senyum khas engkau yang tersungging manis.

Padahal mereka baru saja membakar masjid tepat saat saudara-saudara kami akan menunaikan sholat Iedul Fitri. Tolikara rusuh akibat ulah mereka. Engkau begitu menghormati mereka. Kami terhenyak.

Saya teringat kisah GIDI usai menjadi saksi aksi umat Islam pada 4 November kemarin. Lebih dari sejuta orang yang datang. Dari ibu-ibu hingga orangtua. Dan dipimpin oleh ulama-ulama kami yang mengajarkan indahnya Islam. Ada Ust. Bachtiar Natsir, Habib Riziq, Ust.Arifin Ilham hingga Aa Gym.

Mereka mendatangi istana hanya untuk menuntut keadilan. Meminta mantan kompatriot engkau di DKI Jakarta untuk dihukum karena telah jelas terbukti menista Al Quran. Mereka ingin bertemu engkau. Tapi justru engkau pergi untuk sebuah agenda yang sejatinya bisa engkau delegasikan kepada pembantumu. Kami terhenyak.

Ulama kami tak membakar gereja. Ulama kami tak menghalangi umat lain untuk menjakankan ibadah. Ulama kami tak mengajak umatnya berbuat zalim kepada orang lain. Tapi engkau sama sekali tak mau menerima mereka meski jutaan orang berada di belakang ulama kami pada kemarin hari. Kami terhenyak.

Tempat engkau berdiam saat ini bukan istanamu. Itu istana kami. Dan kami punya hak yang sama masuk ke dalamnya tanpa harus engkau barikade sekelilingnya dengan kawat berduri dan water canon.

Jika engkau bisa dengan mudahnya menerima GIDI yang telah berbuat anarkis kepada umat lain, lalu mengapa engkau tak mau menerima ulama kami yang sama sekali jauh dari kekerasan?

Hari ini, umat Islam akan kembali mendatangi istanamu. Juga para ulama kami. Maksud dan tujuannya masih sama. Segera penjarakan Ahok dan tegakkan hukum seadil-adilnya. Akankah engkau masih pula sama memperlakukan kami dengan menolak kami masuk ke istana?

Istana Negara bukan istana engkau. Kamilah pemiliknya.

Erwyn Kurniawan
(wjn)