Arief Poyuono: "Saya Saksi Hidup Betapa Mulia dan Baiknya Hati KH. Ma'ruf Amin"


Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mengaku sudah tidak "tahan" melihat kelakuan Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang semakin menjadi-jadi, khususnya terhadap umat Islam.

"Lama saya tidak mau mengomentari tentang kelakuan Ahok terhadap umat Islam. Tapi saya berpikir sudah saatnya saya bicara jujur dan apa adanya setelah perlakuan Ahok terhadap KH. Ma'ruf Amin," kata Arief dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/2).

Kelakuan Ahok yang dimaksud adalah, Ahok dan kuasa hukumnya pada persidangan Selasa lalu (31/1), dianggap tidak sopan terhadap saksi Ketua Umum MUI KH. Ma'ruf Amin. Ra'is 'Aam PBNU itu dihardik dan diancam akan diperkarakan karena dinilai memberikan keterangan palsu.

Arief punya catatan sedikit tentang bagaimana kerendahan dan kebaikan hati Kiai Ma'ruf, tidak terkecuali kepada umat Kristiani dan etnik Tionghoa.

"Saya Arief Poyuono tinggal dan besar di Tanjung Priok (Jakarta Utara) sebuah daerah pelabuhan yang dihuni multietnik dan multi strata ekonomi. Dua peristiwa kerusuhan sosial anti China terjadi di Tanjung Priok saat saya tinggal di Tanjung Priok. Yaitu tahun 1984 peristiwa Tanjung Priok Berdarah dan peristiwa Kerusuhan 1998," ucap Arief membuka ceritanya.

"Saya saksi hidup betapa mulia dan baiknya hati seorang KH. Ma'ruf Amin yang mau menjadikan rumah tinggalnya untuk dijadikan tempat perlindungan bagi warga Tionghoa yang rumahnya habis dijarah dan dibakar," sambung dia.

Tidak sampai di situ, Kiai Ma'ruf juga keluar rumah untuk melarang agar tidak boleh dan tidak ada pembakaran gereja di Tanjung Priuk. Kejadian ini kata Arief terjadi pada tahun 1984.

"Hari ini hari Ahok yang mungkin baru tinggal di jakarta tidak lebih dari 25 tahun menghina KH. Ma'ruf Amin yang baik dan berhati mulia. Karena itu saya minta umat Kristiani dan etnik Tionghoa jangan pilih Ahok pada Pilkada nanti," demikian Arief. 

Sumber: Dakwahmedia.net