Begini Cara Bedakan Ulama’ Dunia dengan Ulama’ Akhirat


Salah satu fitnah yang harus diwaspadai kaum Muslimin di akhir zaman adalah keberadaan ulama’-ulama’ dunia. Ia menjadi rumit, sebab keberadaan ulama’ akhirat yang makin langka. Alhasil, banyak orang-orang yang penampilannya selayak ulama’, padahal ia hanya mendambakan dunia dan pernak perniknya yang remeh lagi hina.

Ulama’ dunia, menurut penjelasan Imam Ibnul Jauzi dalam Shaid al-Khatir ialah sosok yang menginginkan duniawi, senang dengan banyaknya pengikut dan cinta dengan pujian manusia.

Cermati tiga ciri ini. Cocokkan dalam sosok-sosok yang berjuluk ustadz atau kiyai yang kini membanjiri kajian dan televisi-televisi serta media siar di sekitar kita.

Jika ulama’ dunia bisa dikenali dengan tiga ciri tersebut, seperti apakah karakter ulama’ akhirat?

Masih merujuk dari penjelasan Imam Ibnul Jauzi, ulama’ akhirat merupakan sosok-sosok yang bersih dari niat-niat duniawi, takut terjerumus ke dalamnya dan merasa kasihan kepada mereka yang mendamba dunia.

Maka, ulama’ akhirat ialah mereka yang serupa dengan sahabat Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu yang senantiasa mendoakan rekan-rekannya di sepanjang waktu.

Mereka mencintai sesamanya melebihi kecintaannya kepada diri sendiri. Tiada satu satuan waktu yang mereka jalani, kecuali ada rintihan doa yang dipanjatkan untuk saudara sesama iman dan umat manusia secara umum.

Maka ulama’ akhirat layaknya Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullahu Ta’ala yang bertutur kepada anaknya Imam asy-Syafi’i Rahimahumallahu Ta’ala, “Bapakmu termasuk enam orang yang senantiasa aku doakan setiap malam pada waktu sahur.”

Adakah nama-nama orang shalih yang masuk dalam doa-doa kita? Adakah para kiyai, ulama’, ustadz, guru ngaji, guru sekolah, atau sahabat-sahabat yang kita masukkan dalam daftar sosok yang didoakan saban waktu?

Itulah ulama’ akhirat. Merekalah orang-orang yang ketiadaannya pun menerangi zaman dengan amal shalih dan kisah-kisah penuh hikmahnya.

Tak hanya itu, ulama’ akhirat juga tidak menyukai pencitraan. Mereka enggan dikenal. Mereka tidak pernah mempromosikan diri. Mereka lebih suka bergerak dalam diam; dalam kesunyian puja-puji umat manusia.

Selayak sahabat ‘Alqamah yang berkata, “Saya tidak suka ada orang yang mengenaliku dan mengatakan, ‘Ini Alqamah.’”

Mari meneliti siapa pun yang di-ulama’-kan oleh generasi akhir zaman ini. Cocokkan dengan ciri-ciri ini; apakah mereka termasuk ulama’ dunia ataukah layak digolongkan ke dalam ulama’ akhirat?

Wallahu a’lam.

Sumber: Bersamadakwah.net