Inilah Kisah Pilu Manusia Pohon dengan Akar di Kedua Tangannya


Indonesia sempat dihebohkan dengan Dede Koswara yang mendapat julukan "Manusia Akar". Dede menderita penyakit aneh yang membuat perubahan pada kulit di sekujur tubuhnya hingga akhirnya tutup usia pada Sabtu 30 Januari 2016.

Di Dhaka, Bangladesh seorang pria mendapat julukan "Manusia Pohon" setelah menderita penyakit aneh yang disebut Human Pappiloma Virus '(HPV) hingga menyebabkan kedua tangannya berubah menjadi seperti akar pohon.

Pria itu bernama Abul Bajandar (25) dan sudah menderita penyakit itu sejak usia 10 tahun. Dokter dari seluruh dunia kini sedang berusaha untuk mendapatkan penawar penyakit aneh itu.

HPV adalah nama bagi sekelompok virus yang mempengaruhi kulit. Ada lebih dari 100 jenis HPV dengan 30 infeksi yang juga dapat memengaruhi hingga daerah kemaluan. Semua yang terjangkit HPV dapat menyebabkan kutil.

Kabar terakhir yang dilansir BBC, Jumat 5 Februari 2016, Pemerintah Bangladesh akan membiayai pengobatan di "Manusia Pohon" itu.

Menteri Kesehatan Mohammad Nasim mengumumkan hal itu setelah mengunjungi Bajandar di rumah sakit pada Kamis 4 Februari 2016. Bajandar mengidap penyakit genetik yang membuat seseorang rentan terhadap pertumbuhan kulit.

"Awalnya, saya berpikir kutil-kutil itu tidak berbahaya," kata Bajandar kepada Kantor berita AFP.

"Sekarang ada lusinan kutil dengan tinggi belasan sentimeter di kedua tangan saya. Dan ada beberapa dengan ukuran kecil di kaki saya," katanya.

Bajandar melakukan perjalanan ke India untuk mendapatkan pengobatan, tapi keluarganya tidak mampu membayar biaya operasi.

Sampel darah dan jaringan kulitnya saat ini sedang dikirim ke laboratorium di AS, kata profesor Abul Kalam, seorang ahli bedah plastik, kepada BBC. Dia akan dirawat di Bangladesh jika laporan diagnosanya sudah siap.

Bajandar adalah salah satu dari tiga kasus "penyakit manusia pohon" yang sudah tercatat di seluruh dunia sekarang ini, kata Samanta Lal Sen, direktur di Dhaka Medical College Hospital, kepada AFP.

"Ini pertama kalinya kami menemukan kasus langka ini di Bangladesh," katanya.