Kejahatan yang Sering Tak di Sadari Oleh Seseorang yang Sholat Berjamaah di Masjid


Seorang penceramah menuturkan sebuah fakta yang amat membuat sedih hatinya. Beberapa tahun silam, dia pernah tinggal di sebuah wilayah untuk berdakwah. Saat itu, dia mengenal beberapa anak yang rajin mendatangi masjid untuk belajar shalat berjamaah. Lumayan akrab. Sampai si penceramah pindah daerah dakwah.

Di sela-sela kesibukannya berdakwah di daerah lain, si penceramah ditakdirkan berkunjung ke lokasi yang dahulu pernah disinggahinya dalam waktu yang lumayan lama. Beberapa hari. Dia kembali mengunjungi sahabat dakwah dan turut berjamaah di masjid. Namun, sampai kunjungan terakhirnya, dia tidak menemukan anak-anak yang dahulu dia dapati rajin belajar shalat berjamaah di masjid.

Atas taqdir Allah, tepat sesaat sebelum kembali ke daerahnya, si penceramah dipertemukan dengan salah seorang sahabat dari anak yang dia cari. Saat bertanya, dia begitu kaget. Si anak benar-benar berhenti mendatangi masjid setelah dimarahi oleh oknum berusia tua yang justru rajin mendatangi masjid untuk shalat berjamaah.

“Kalian ngapain ke masjid?! Berisik saja! Ganggu orang sedang ibadah! Pulang! Gak usah datang ke masjid lagi!” sembur si oknum.

***
Ghulam, sebut saja demikian, beberapa hari ini rajin ke masjid untuk shalat berjamaah. Shalat Maghrib dan Isya’. Sejak waktu shalat belum masuk, dia dan beberapa temannya sudah siap di depan rumah sembari memanggil nama penulis. “Ayo, Om. Sudah adzan.”

Kami pun menuju masjid dengan berjamaah. Dua, tiga, empat, lima orang atau lebih. Semarak. Penuh semangat dan canda sembari ditingkahi kenakalan khas anak-anak.

Sekitar dua hari terakhir, si Ghulam berubah. Setiap masuk waktu shalat Maghrib dan Isya’, dia tidak ada di antara anak-anak yang ikut jamaah di masjid. Bahkan, dia terkesan menghindar. Takut jika diajak ke masjid, sebab dia tak kuasa menolak ajakan kebaikan.

Sebab ketakutan si Ghulam, tak ubahnya yang dialami si anak dalam kisah pertamanya.

Hari itu, si Ghulam berebut berada di dekat penulis untuk berdiri dalam shaf shalat. Barisan pertama. Ujung sebelah kanan. Namanya anak-anak, dia pun bersaing dengan teman-teman yang lain. Tidak menimbulkan keributan, tapi ada saja oknum sok khusyuk yang bertingkah kasar kepada si Ghulam dan satu temannya yang lain.

Dengan kasar, laki-laki bersarung, berpeci lengkap dengan surban dan baju taqwanya, menyeruak ke barisan depan, tepat di barisan kami, lalu menarik paksa tangan si Ghulam yang berada di sebelah kanan penulis berjarak dua orang seraya melemparnya ke barisan kedua. “Minggir! Berisik saja!” ketusnya menyebalkan.

Bukan sekali ini si oknum bertindak demikian. Saban hari, dia dan beberapa temannya kerap bertingkah pongah dengan dalih khusyuk.

***
Apa yang terjadi dalam kisah ini kerap kita dapati. Ada begitu banyak orang yang sok khusyuk hingga berbuat bodoh. Parahnya, mereka berasal dari golongan sepuh yang masa hidupnya tidak lama lagi. Mereka merasa melakukan kebaikan, padahal sejatinya merupakan keburukan yang sangat nyata dampaknya.

Jika oknum-oknum seperti ini tak segera sadar, wajar saja jika anak-anak kita tidak suka mendatangi masjid dan lebih memilih mengajak orang tuanya ke pasar, pusat perbelanjaan, atau tempat dimana mereka bisa bermain dengan puas.

Semoga kita terhindar dari sikap buruk yang terlihat baik ini.

Wallahu a’lam.


[Pirman/Kisahikmah]